Pembunuhan Brutal 110 Orang di Haiti: Geng Targetkan Lansia atas Tuduhan Ilmu Sihir
Pelita Jogja – Laporan terbaru dari organisasi hak asasi manusia menyebutkan bahwa lebih dari 110 orang di Haiti, sebagian besar di antaranya adalah lansia, telah menjadi korban pembunuhan brutal oleh anggota geng. Insiden ini terjadi di ibu kota Haiti, Port-au-Prince, dengan fokus serangan pada orang-orang tua yang dituduh terlibat dalam praktik “ilmu sihir.” Geng-geng yang aktif di wilayah ini terus memperlihatkan kekejaman yang luar biasa, mengancam kehidupan warganya yang tak terlibat dalam konflik.
National Human Rights Defence Network (RNDDH) mengungkapkan bahwa pembunuhan tersebut dipicu oleh kematian seorang anak dari pemimpin geng lokal. Setelah anaknya jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia, pemimpin geng tersebut berinisiatif berkonsultasi dengan seorang pendeta voodoo. Pendeta tersebut menyatakan bahwa penyakit yang menyerang anaknya disebabkan oleh para lansia yang terlibat dalam ilmu sihir, yang akhirnya menyebabkan mereka menjadi sasaran kekerasan.
Menurut laporan yang diterbitkan oleh BBC pada Selasa (10/12), insiden ini terjadi pada akhir pekan lalu di kawasan Cit Soleil, salah satu wilayah di Port-au-Prince yang telah lama dikuasai oleh geng. Anggota geng dikabarkan menangkap puluhan warga berusia lebih dari 60 tahun, membawa mereka keluar dari rumah mereka, lalu membunuh mereka dengan tembakan atau tikaman pisau dan parang. Warga yang berada di sekitar lokasi pembunuhan melaporkan bahwa mayat-mayat tersebut dimutilasi dan dibakar di jalanan, menambah kesan mengerikan dari kekerasan yang terjadi.
Dari laporan RNDDH, sebanyak 60 orang tewas pada hari Jumat (6/12), dan 50 korban lainnya dibunuh pada hari Sabtu (7/12), setelah kematian putra pemimpin geng tersebut. Meski kebanyakan korban adalah lansia, beberapa orang muda yang mencoba melindungi orang tua mereka juga tidak luput dari kekerasan dan ikut terbunuh.
Kekerasan yang terus berlangsung di Haiti semakin menunjukkan betapa rentannya kehidupan masyarakat, terutama kelompok yang lebih tua, terhadap kekerasan yang tidak masuk akal ini. Pemimpin geng yang bertanggung jawab atas pembunuhan ini, Monel Felix, atau yang lebih dikenal dengan nama Mikano, adalah tokoh sentral dalam kejadian ini. Mikano menguasai wilayah Wharf Jrmie, sebuah area strategis di pelabuhan ibu kota. Meskipun wilayah ini relatif kecil, akses menuju kawasan tersebut sangat sulit, sehingga pasukan keamanan kesulitan untuk menjangkau dan menghentikan aksi-aksi kekerasan.
Sejak pembunuhan Presiden Jovenel Moïse pada tahun 2021, Haiti mengalami lonjakan kekerasan yang signifikan, sebagian besar disebabkan oleh kelompok-kelompok geng yang semakin memperluas kekuasaan mereka. Meski sempat terjadi gencatan senjata antara beberapa geng pada tahun 2024, ketegangan antar kelompok kembali meningkat, yang akhirnya memicu kekerasan dan pembantaian terhadap warga sipil.
Haiti juga menghadapi krisis kemanusiaan yang semakin buruk, dengan lebih dari 700.000 orang, termasuk banyak anak-anak, terpaksa mengungsi akibat kekerasan yang meluas. Data dari Organisasi Internasional untuk Migrasi menyebutkan bahwa sebagian besar pengungsi ini melarikan diri dari wilayah yang dikuasai geng. Selain itu, kelompok-kelompok kriminal di Haiti sering menggunakan kekerasan seksual sebagai cara untuk menebar ketakutan di masyarakat, dengan banyak wanita dan gadis yang menjadi korban pemerkosaan tanpa adanya konsekuensi bagi pelakunya.
Meskipun ada upaya internasional untuk meredakan situasi, seperti dengan misi dukungan multinasional yang dipimpin oleh pasukan Kenya, upaya tersebut belum berhasil mencapai hasil yang signifikan. Pasukan polisi internasional yang hadir di Haiti menghadapi berbagai kendala, mulai dari kekurangan dana hingga kurangnya peralatan yang memadai untuk melawan kekuatan geng bersenjata. Di sisi lain, pemerintah Haiti yang terbentuk pasca-kejatuhan Moïse tampaknya belum mampu membawa stabilitas yang diharapkan, dengan proses pemilihan umum yang masih terhambat.
Dalam situasi yang semakin kacau ini, masyarakat Haiti terus berjuang untuk bertahan hidup, sementara dunia internasional menghadapi tantangan besar dalam mencari solusi yang efektif untuk mengakhiri kekerasan yang terus berlanjut.