Pelita Jogja

Media Warta Tebaru

Upaya Kemanusiaan PBB Terkendala Konflik Berkepanjangan di Jalur Gaza
Berita

Upaya Kemanusiaan PBB Terkendala Konflik Berkepanjangan di Jalur Gaza

Pelita Jogja – Koordinator Kemanusiaan Senior Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Gaza, Sigrid Kaag, menyampaikan keprihatinannya terkait upaya kemanusiaan yang terus terhambat di Jalur Gaza akibat konflik yang berkepanjangan. Dalam pertemuannya dengan anggota Dewan Keamanan PBB pada Selasa (10/12), Kaag menekankan bahwa tantangan utama yang dihadapi adalah pembatasan jenis bantuan, permusuhan yang terus berlangsung, dan kurangnya lingkungan yang aman untuk mendistribusikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.

Kaag menjelaskan bahwa untuk memastikan respons kemanusiaan yang lebih efektif, PBB membutuhkan pembukaan penyeberangan perbatasan Rafah. Hal ini akan memungkinkan distribusi bantuan berjalan lebih lancar dan efisien. Namun, ia juga menggarisbawahi bahwa bantuan kemanusiaan saja tidak cukup untuk menjawab kebutuhan masyarakat Gaza. Barang-barang komersial juga diperlukan untuk mendukung kehidupan sehari-hari mereka di tengah situasi sulit ini.

Krisis ini bermula pada 7 Oktober 2023, ketika Israel menjadi target serangan roket besar-besaran dari Jalur Gaza. Selain itu, pejuang Hamas melintasi perbatasan, menyerang pasukan militer, warga sipil, dan membawa sandera. Serangan tersebut menyebabkan sekitar 1.200 korban jiwa di pihak Israel, seperti dilaporkan oleh otoritas setempat.

Sebagai tanggapan, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) meluncurkan Operasi Iron Swords, serangan militer besar-besaran ke wilayah Gaza, disertai dengan blokade total atas wilayah tersebut. Dampak dari operasi ini sangat menghancurkan, dengan jumlah korban tewas di pihak Gaza dilaporkan telah melampaui angka 44.700 orang, menurut data otoritas kesehatan setempat.

Dalam situasi yang penuh ketegangan ini, upaya kemanusiaan PBB menjadi semakin sulit. Pembatasan terhadap jenis bantuan yang dapat masuk ke Gaza memperburuk kondisi masyarakat setempat, yang sudah sangat bergantung pada dukungan internasional. Selain itu, lingkungan yang tidak aman membuat distribusi bantuan menjadi tantangan besar, meskipun berbagai organisasi kemanusiaan telah mengerahkan upaya maksimal.

Kaag menekankan pentingnya tindakan bersama dari komunitas internasional untuk mengatasi krisis ini. Ia menyatakan bahwa solusi jangka panjang sangat diperlukan, tidak hanya dalam bentuk bantuan kemanusiaan tetapi juga langkah-langkah yang dapat menciptakan stabilitas di wilayah tersebut. Pembukaan perbatasan Rafah menjadi salah satu langkah konkret yang harus segera diwujudkan untuk memperbaiki kondisi kehidupan di Gaza.

Sementara itu, konflik yang terus berlanjut hanya memperburuk situasi. Operasi militer, pembatasan akses, dan ketidakstabilan politik membuat masyarakat Gaza berada dalam tekanan yang luar biasa. Dampaknya tidak hanya terasa dalam aspek keamanan, tetapi juga pada kehidupan sehari-hari, seperti akses ke makanan, air bersih, dan layanan kesehatan.

PBB dan organisasi internasional lainnya terus mendesak pihak-pihak yang terlibat untuk membuka akses bantuan secara penuh dan menghormati hukum humaniter internasional. Mereka menekankan bahwa kebutuhan mendesak masyarakat Gaza harus menjadi prioritas utama, terutama bagi anak-anak, perempuan, dan lansia yang sangat rentan terhadap dampak konflik ini.

Konflik di Gaza menjadi pengingat betapa pentingnya perdamaian dan stabilitas untuk mencegah penderitaan yang berkepanjangan. Komunitas internasional diharapkan dapat memainkan peran lebih besar dalam mencari solusi damai yang berkelanjutan, sekaligus memastikan bahwa kebutuhan kemanusiaan tidak diabaikan di tengah gejolak politik dan militer.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *