Pelita Jogja – Sebanyak tiga ton garam atau natrium klorida (NaCl) berhasil disebarkan ke atmosfer di wilayah Jawa Barat untuk mengurangi intensitas hujan yang dapat memicu bencana hidrometeorologi. Proses ini dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari BNPB, TNI Angkatan Udara, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dengan menggunakan pesawat Cessna Caravan 208B. Kegiatan penyemaian garam tersebut berlangsung pada Rabu, 11 Desember 2024, dari siang hingga dini hari, dengan tujuan mengurangi potensi hujan lebat yang berisiko menyebabkan bencana seperti banjir dan tanah longsor.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa penyemaian garam dilakukan untuk mengurangi intensitas hujan di wilayah yang rawan bencana hidrometeorologi, terutama di bagian barat daya dan barat laut Jawa Barat. Wilayah tersebut berada pada ketinggian antara 10.000 hingga 11.000 kaki atau lebih dari tiga kilometer di atas permukaan laut. Penyemaian garam ke dalam awan penghujan ini bertujuan untuk mempercepat proses pengendalian hujan agar tidak terjadi secara berlebihan yang bisa menyebabkan bencana alam.
Tim yang terlibat dalam operasi ini memanfaatkan teknologi modifikasi cuaca untuk memanipulasi proses pembentukan hujan. Melalui penyemaian garam, partikel-partikel garam yang disebar ke udara akan mengikat uap air dalam awan, sehingga menyebabkan hujan turun lebih cepat dan terkendali. Hasilnya, intensitas hujan di wilayah yang terdampak dapat diminimalkan, mengurangi risiko terjadinya bencana seperti banjir dan tanah longsor.
Kegiatan ini tidak hanya berlangsung sekali, namun rencananya, BNPB akan melaksanakan beberapa kali penyemaian dalam beberapa hari ke depan. Total 50 ton garam telah disiapkan untuk disebarkan ke atmosfer sesuai dengan hasil pantauan satelit cuaca yang terus memantau perkembangan kondisi cuaca di wilayah Jawa Barat. Penyemaian garam dilakukan dengan metode “jumping,” yaitu penyemaian yang dilakukan dalam beberapa penerbangan berturut-turut untuk memastikan seluruh area yang berpotensi mengalami hujan lebat dapat dijangkau.
Operasi modifikasi cuaca ini sangat penting untuk mengurangi dampak bencana hidrometeorologi yang sering terjadi di wilayah Jawa Barat. Pada awal Desember 2024, banjir dan tanah longsor terjadi di Kabupaten Sukabumi dan Cianjur akibat curah hujan yang tinggi. Kejadian tersebut menimbulkan kerusakan dan mengancam keselamatan masyarakat, sehingga BNPB dan instansi terkait bekerja sama untuk meminimalisir potensi bencana serupa terjadi kembali.
Dengan adanya operasi ini, diharapkan intensitas hujan dapat dikendalikan lebih baik, terutama di wilayah yang sering kali menjadi titik rawan bencana. Penyemaian garam ini diharapkan dapat mempercepat proses penurunan intensitas hujan dan mengurangi resiko kerugian akibat bencana alam. Meski demikian, upaya ini hanya merupakan salah satu langkah dalam rangka mitigasi bencana yang melibatkan berbagai aspek, mulai dari kesiapsiagaan masyarakat, peringatan dini, hingga pembangunan infrastruktur yang lebih tahan terhadap bencana.
Ke depan, BNPB bersama dengan TNI AU dan BMKG akan terus memantau perkembangan cuaca di Jawa Barat untuk menentukan jadwal penyemaian berikutnya. Proses modifikasi cuaca ini tidak hanya bergantung pada ketersediaan garam, tetapi juga pada kondisi awan dan prediksi cuaca yang terus diperbarui. Sebagai bagian dari langkah pencegahan bencana, operasi modifikasi cuaca ini memberikan kontribusi besar dalam upaya mengurangi dampak bencana yang dapat mengancam kehidupan masyarakat.
Melalui kolaborasi antara berbagai lembaga dan pemanfaatan teknologi canggih, Indonesia semakin siap dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan cuaca ekstrem.