Pelita Jogja – Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) kembali melakukan revisi penurunan terhadap proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global untuk tahun 2024 dan 2025. Penurunan ini menjadi yang kelima kalinya dalam lima bulan berturut-turut, menunjukkan tren berkelanjutan yang menunjukkan ketidakpastian dalam pasar energi global.
Dalam laporan pasar minyak bulanannya yang dirilis pada Desember 2024, OPEC memprediksi bahwa permintaan minyak global pada 2024 akan tumbuh sebesar 1,61 juta barel per hari (bph), lebih rendah 210.000 bph dibandingkan dengan estimasi sebelumnya yang diperkirakan sebesar 1,82 juta bph. Penyesuaian ini, menurut OPEC, didasarkan pada data terkini yang mencakup tiga kuartal pertama tahun ini, yang menunjukkan angka yang lebih rendah dari yang diperkirakan sebelumnya, terutama data untuk kuartal ketiga yang cenderung “bearish” atau pesimis.
Untuk tahun 2025, OPEC memproyeksikan bahwa pertumbuhan permintaan minyak akan mencapai 1,45 juta bph, yang juga mengalami penurunan sebesar 90.000 bph dari perkiraan bulan lalu yang sebesar 1,54 juta bph. Meskipun ada penurunan dalam proyeksi ini, OPEC tetap menyatakan bahwa angka tersebut masih mencerminkan tingkat pertumbuhan yang sehat jika dibandingkan dengan rata-rata sebelum pandemi.
Sejak Agustus 2024, OPEC telah memangkas proyeksi permintaan minyak globalnya secara berturut-turut selama empat bulan. Sebelumnya, organisasi ini mempertahankan proyeksi pertumbuhannya pada angka yang lebih tinggi, yakni 2,25 juta bph untuk tahun 2024 dan 1,85 juta bph untuk 2025. Namun, kondisi pasar yang tidak menentu, ditambah dengan kekhawatiran akan melambatnya permintaan global dan peningkatan pasokan dari negara-negara penghasil minyak di luar OPEC+, kelompok yang terdiri dari negara-negara OPEC dan sekutunya, membuat OPEC terpaksa melakukan revisi ke bawah.
Tren penurunan harga minyak yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir turut mempengaruhi proyeksi ini. Harga minyak Brent, yang menjadi acuan harga minyak internasional, kini diperdagangkan sedikit di atas 70 dolar AS per barel, turun signifikan dari harga 80 dolar AS per barel yang tercatat pada Juli 2024. Penurunan harga minyak ini sebagian besar dipicu oleh kekhawatiran tentang prospek melambatnya pertumbuhan ekonomi global yang akan berujung pada penurunan permintaan energi. Selain itu, peningkatan pasokan dari produsen-produsen minyak di luar OPEC+ juga berperan dalam mengurangi tekanan terhadap harga minyak global.
Meski begitu, OPEC tetap optimis terhadap stabilitas jangka panjang pasar minyak. Dalam pertemuan tingkat menteri pada pekan lalu, OPEC+ sepakat untuk mempertahankan kebijakan pemangkasan produksi minyak yang telah diterapkan selama ini, dengan tujuan untuk menjaga kestabilan pasar dan mendukung harga minyak yang adil bagi para produsen. Kebijakan ini akan dilanjutkan hingga kuartal pertama 2025, memberikan indikasi bahwa OPEC berupaya untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan yang semakin tidak pasti.
Dengan langkah-langkah yang diambil oleh OPEC, proyeksi pasar minyak global akan terus dipantau oleh para pelaku industri, yang kini menghadapi tantangan besar di tengah ketidakpastian ekonomi global dan geopolitik yang mempengaruhi pasar energi dunia.