Salah satu penerbangan, yang diperkirakan tiba di Jakarta pada pukul 14.45 WIB, adalah penerbangan Garuda Indonesia dari Doha, Qatar. Namun, dua penerbangan lainnya yang membawa WNI dari Suriah melalui Beirut belum dipastikan jadwal kedatangannya di Bandara Soekarno-Hatta. Mengingat tidak ada penerbangan langsung dari Beirut ke Jakarta, penerbangan ini melewati beberapa bandara transit seperti Doha, Dubai, dan Abu Dhabi sebelum akhirnya sampai di ibu kota Indonesia.
Evakuasi ini merupakan langkah awal dari gelombang pertama yang dilakukan oleh KBRI Damaskus, yang sebelumnya menyatakan bahwa mereka telah memulai proses pemulangan 37 WNI yang berada di Suriah. KBRI Damaskus juga memastikan bahwa dari 1.162 WNI yang ada di Suriah, semuanya dalam kondisi aman. Hal ini menunjukkan upaya pemerintah Indonesia untuk menjamin keselamatan warganya di luar negeri, terutama di wilayah yang tengah dilanda ketegangan.
Sebelumnya, pada Selasa (10/12), KBRI Damaskus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk melaksanakan proses evakuasi. Dalam acara diskusi daring yang diselenggarakan pada Rabu (11/12), Duta Besar Republik Indonesia untuk Suriah, Wajid Fauzi, menyatakan bahwa kondisi di Suriah, khususnya di kota Damaskus, sudah menunjukkan tanda-tanda normalisasi. Ia bahkan menyebutkan bahwa sekitar 98 persen kehidupan masyarakat di ibu kota Suriah tersebut sudah kembali seperti sediakala.
Wajid juga menambahkan bahwa ia telah melakukan peninjauan langsung ke sejumlah kawasan di Damaskus dan menyatakan bahwa sebagian besar aktivitas masyarakat berjalan dengan lancar. Meskipun situasi di beberapa area Suriah masih dapat dianggap sensitif, pengamatan Wajid menunjukkan bahwa kebanyakan kota besar, termasuk Damaskus, telah kembali berfungsi dengan normal, dengan infrastruktur dan kehidupan sosial yang mulai stabil.
Proses evakuasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia ini menandakan respons cepat dan efektif dalam menjaga keselamatan WNI yang berada di luar negeri, terutama di negara-negara yang memiliki situasi geopolitik yang tidak stabil. Sebagai negara dengan jumlah diaspora yang cukup besar, langkah-langkah proaktif seperti ini menjadi sangat penting untuk melindungi warganya dari potensi ancaman yang bisa terjadi di tengah ketidakpastian situasi.
Sebagai informasi tambahan, evakuasi gelombang pertama ini menjadi langkah awal dari rencana lebih lanjut untuk memulangkan WNI yang masih berada di Suriah, terutama yang terjebak dalam kondisi yang kurang aman. Pemerintah Indonesia, melalui perwakilan diplomatiknya, terus bekerja sama dengan pihak-pihak terkait untuk memastikan bahwa seluruh WNI dapat kembali ke tanah air dengan aman.
Dengan dipulangkannya 37 WNI ini, diharapkan situasi akan semakin membaik, dan proses evakuasi untuk gelombang berikutnya bisa dilakukan dengan lancar.